Waspada Modus Penipuan Telepon

17-November-2003       Mobile

 

Berhati-hatilah jika suatu saat Anda menerima panggilan dengan perintah agar ponsel anda dimatikan demi kepentingan tertentu. Sebab, bisa saja perintah agar ponsel dimatikan itu adalah awal dari sebuah penipuan.

Seseorang, sebut saja Andi mengadukan pengalamannya yang hampir terkena penipuan lewat telepon di milis Indo911@yahoogroups.com. Milis ini menerima pengaduan tentang berbagai kejahatan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Andi menceritakan kejadian yang dialaminya pada 29 Oktober 2003 sekitar pukul 09.00 WIB. Ketika itu dia menerima telepon dari seseorang yang mengaku berasal dari Reserse Tindak Narkotika Polsek Bekasi bernama AKBP Bambang.

Saat itu Bambang melaporkan bahwa nomor ponsel Andi terlibat penyalahgunaan tindak narkoba. Untuk itu, AKBP Bambang minta agar HP Andi di-nonaktifkan sampai jam 14.00. Andi mengaku saat itu dia langsung curiga dan membiarkan HP-nya aktif. Salah satu dasar kecurigaannya adalah ketika menanyakan asal Bambang, dijawab dari Polsek Bekasi. Padahal untuk tingkatan Kabupaten Bekasi kelembagaan Polri bukanlah Polsek tapi Polres.

"Ternyata tidak sampai hitungan detik dia menelpon lagi dan mengingatkan saya agar mau bekerjasama dengan pihak kepolisian. Tetap saya biarkan HP aktif sampai dia menghubungi saya sebanyak 5 kali namun saya abaikan," tulis Andi.

Andi meneruskan, saat itu kata hati saya menuntun agar saya menelpon rumah. Oleh pembantunya, Andi diberitahu bahwa tadi ada pemberitahuan dari Telkom untuk mencabut kabel telpon di rumah karena ada perbaikan jaringan telepon.

"Sungguh tidak masuk akal..., dan saya berpesan kepada pembantu bahwa kalo ada pemberitahuan seperti itu, abaikan saja, sebab itu penipuan model baru," lanjutnya.

Lantas Andi menghubungi istrinya dan ternyata dia disuruh menon-aktifkan HP-nya oleh seseorang. Beruntung istri Andi sudah berinisiatif untuk mengirim SMS ke bapak ibu mertua. "Isinya kalau ada yang menelepon memberi kabar buruk.., tolong abaikan saja dan jangan dilayani," kata Andi.

Langkah kemudian yang dilakukan Andi adalah menghubungi kedua orangtuanya di Malang. "Dari nada suara ibu terdengar kalo beliau sempat shock ketika saya diberitakan kecelakaan, terluka parah, kondisinya koma dan sedang dirawat di RS Mitra Bekasi. Beliau sempat berbicara dengan orang yang mengaku Dr. Akmal dan untuk membeli anestesi dan perlengkapan operasi membutuhkan biaya sebanyak 22 juta. Ibu sempat bertanya bukankah biaya operasi anaknya ditanggung oleh perusahaan? Si penipu itu menjawab bahwa uang tersebut hanya digunakan sebagai jaminan. Sekali lagi Alhamdulillah, nalar sehat orang tua saya masih berjalan sehingga beliau masih harus mengecek kebenaran berita tersebut," cerita Andi.

Andi berharap cerita ini bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang agar tidak mudah terjerat penipuan model telepon seperti ini. Meski tidak ada data pasti, banyak korban yang terkena penipuan model ini.

Sumber : detik.com
Reporter : Titis Widyatmoko

 

Copyright © Wiliam, 2018 - All rights reserved