Si Penjahat

26-Juni-2002       Kahlil Gibran

 

Seorang pemuda bertubuh kekar, namun lemah oleh rasa lapar, duduk terkulai di pinggir jalan, berwajah lesu dan menengadahkan tangan kepada semua orang yang lalu-lalang, minta sedekah sambil mengulang lagu duka cerita hidupnya yang kalah, kisah derita kelaparan dan kehinaan.

Kala malam tiba, bibir dan lidahnya pedih kekeringan, sedangkan tangan masih sehampa perut yang melilit keroncongan.

Dibenahinya diri, lalu pergi ke luar kota, kemudian duduk di bawah pohon, tak kuasa menahan lelehnya airmata. Lalu ditengadahkannya mata yang penuh tanya ke arah sorga, sementara perut mendera, sambil berkata, "Oh Tuhan, aku telah pergi kepada orang kaya meminta kerja, tetapi dia memalingkan muka, melihat penampilanku yang papa, aku telah pergi mengetuk pintu sebuah rumah sekolah, namun tiada mendapatkan berkah, karena tiba dengan hampa tangan; segala macam pencarian nafkah telah kuupayakan, namun tiada satupun kudapatkan. Dalam kebingungan telah terpaksa kuminta sedekah, tetapi ditolak umat-Mu para penyembah, yang memandangi diriku sambil menista, "Sebenarnya dia kuat, tapi pemalas, tak sepatutnya merengekan belas."

"Oh Tuhan, sudahkah menjadi kehendak-Mu, bahwa ibuku melahirkan daku, dan kini bumi sendiri menyerahkanku kembali kepada-Mu, sebelum mencapai Waktu ?"

Lalu wajahnya berubah tiba-tiba. Dia bangkit berdiri dengan mata berbinar berapi-api. Dibuatnya tongkat berat dari dahan pohon besar, diacungkannya ke arah kota sambil berteriak kasar, "Sekuat tenaga aku telah menjerit meminta roti, tetapi kau menolakku dengan berlagak buta-tuli, kini aku tidak meminta lagi, akan kuambil sendiri; dengan kekuatan tangan besi ! Telah kumohon sekeping roti, dengan himbauan pada kasih hati, tetapi rasa kemanusiaanmu telah mati. Baiklah, kini akan kuambil sendiri, atas nama kejahatan !"

Berjalanlah tahun-tahun, yang mengenal pemuda itu sebagai penyamun, pembunuh, pengobrak-abrik keselamatan jiwa, dibinasakannya siapapun yang menentangnya; ditumpuknya harta benda dan kekayaan, dibuatnya merebut pengaruh dari pemegang kekuasaan. Sekarang dia memperoleh pengaguman, dari rekan sepencaharian, membangkitkan rasa iri pada sesama pencuri, menimbulkan gentar dan ngeri pada seluruh penduduk negeri.

Kekayaan dan kedudukan rampasan itu, mendesak Emir mengangkat dia sebagai wakil kota itu - cara menyedihkan yang dianut para gubernur dungu. Maka pencurian memperoleh pengesahan; Pemerasan didukung alat kekuasaan, Penindasan kaum lemah menjadi kebiasaan; dalam pada itu penonton khalayak ramai bersorak-sorai.

Demikianlah sentuhan pertama ketamakan mengubah si lembut menjadi pelaku tindak kejahatan, dan melahirkan pembunuh dari pecinta kedamaian; demikianlah benih awal keserakahan insan, bertumbuh jadi raksaksa dan menghantamkan godam seribu kaki pada kemanusiaan.

Disadur dari buku "Lagu Gelombang"

 

Copyright © Wiliam, 2018 - All rights reserved