Setetes air mata dan seutas senyuman

26-Juni-2002       Kahlil Gibran

 

Takkan kutukar dukacita hatiku demi keriaan khalayak. Dan, tak akan kutumpahkan airmata kesedihan yang mengalir dari tiap bagian diriku berubah menjadi gelak-tawa. Kuingin diriku tetaplah setetes airmata dan seutas senyuman.

Setetes airmata menyucikan hatiku dan memberiku pemahaman rahasia kehidupan dan hal-ihwal yang tersembunyi. Seulas senyuman menarikku dekat ke putra kesayanganku dan menjelma sebuah lambang pemujaan kepada Tuhan.

Setetes airmata menyatukanku dengan mereka yang patah hati; seulas senyum menjadi sebuah tanda keriaanku dalam keberadaan.

Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan ketimbang jika aku hidup menjemukan dan putus-asa.

Aku sedia kelaparan demi cinta dan keindahan yang ada di kedalaman jiwaku, lantaran telah kusaksikan mereka yang dipuaskan amat menyusahkan orang. Telah kudengar keluhan mereka dalam hasrat dan kerinduan dan itu lebih manis dari pada melodi yang termanis.

Ketika malam tiba bunga mengucupkan kelopaknya dan tertidur, memeluk kerinduannya. Tatkala pagi menghampiri, ia membuka bibirnya demi menyambut ciuman matahari.

Kehidupan sekuntum bunga sama dengan kerinduan dan pengabulan. Setetes airmata dan seulas senyuman.

Air laut menguap dan naik dan tiba bersama dan menjelma segumpal mega. Dan, awan mengapung di atas perbukitan dan lembah-ngarai sampai dia bersua angin sepoi basa, lalu jatuh bercucuran ke padang-padang dan bergabung bersama aluran dan sungai kembali ke laut, rumahnya.

Kehidupan awan-gemawan itu suatu perpisahan dan suatu persuaan. Setetes airmata dan seulas senyuman.

Dan, kemudian jiwa jadi terpisahkan dari jiwa yang lebih besar, bergerak di dunia zat dan melintas bagai segumpal mega diatas pegunungan dukacita dan dataran keriaan demi bersua angin kematian dan kembali ke tempat asalnya.

Ke samudra Cinta dan Keindahan - ke Tuhan.

Disadur dari buku "Airmata Dan Senyuman"

 

Copyright © Wiliam, 2019 - All rights reserved