Sepotong Kue Kuning [1999]

21-Desember-2006       Filosofi Kopi

 

Kulit putih itu tampak kontras dengan langit hitam. Sering Lei mengeluh, kulitnya terlampau putih untuk seorang pria. Namun Indi tidak menemukan alasan untuk mengeluh. Dengan tatapan kagum dan cinta, Indi meraba kulit Lei perlahan-lahan, sama takzimnya dengan menghayati kehalusan sutera yang ditenun ulat. Dan di ujung perjalanan jemarinya, Indi menemukan apa yang ia cari. Sepotong kue kuning manis. Ada di sebelah wajah Lei.

Mereka berdua berbaring, bertindihan. Dada bidang itu masih berotot sekalipun katanya sudah lebih dari dua tahun tidak pernah fitness. Ada daya pejal yang membuat dada Lei nyaman seperti bantal, dan Indi bisa tidur selamanya di sana.

Gelap sekali di ruangan itu. Tangan Lei mencari-cari tangan Indi, tetapi yang tergenggam selalu hatinya. Kadang-kadang digenggam terlalu erat hingga ngilu. Ngilu yang dibangun oleh rasa takut kehilangan, takut ditinggalkan, dan cemburu pada pihak-pihak lain. Pihak lain...

Mendadak Indi tertawa kecil.

'Kenapa kamu ketawa ?' bisik Lei halus. Seolah-olah ada orang lain di ruangan itu yang tak diizinkannya ikut mendengar.

Indi tak menjawab karena merasa Lei tahu.

Keheningan bagai lagu merdu.

'Kapan ya, kita bertemu lagi...' bisik Indi setengah mengeluh.

'Paling lama sebulan. Nanti saya atur alasannya.'

Tangan Lei menemukan tangan Indi. Akhirnya.

'Berdoa saja semoga lebih cepat. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi besok, atau lusa... siapa tahu keadaan berubah,' ujar Lei lagi, bijak.

Indi pun berdoa. Doa yang sama setiap malammnya. Indi yakin Tuhan tidak akan bosan, malah semakin paham akan keinginannya, impiannya. Semuanya tulus. Dan ketulusan akan membuahkan hasil setimpal.

 

-=o0o=-

 

Satu lagi kue kuning tandas tertelan. Pahit rasanya.

Kali ini mereka tidak beruntung. Lei tidak bisa datang menemuinya. Anaknya sakit dan tidak bisa ditinggal. Indi mengerti. Sudah seharusnya demikian. Lei punya dunia sendiri, begitu pula dirinya.

Indi lalu duduk bersandar menghadap jendela, menakar dunianya. Dunia yang normal dan wajar, tempat dirinya eksis sebagai manusia yang seimbang. Orang-orang memang tidak tahu berapa limbung ia kala malam tiba. Malam hari membawanya ke dalam penjara. Penjara yang dimasuki dengan suka rela. Di sana ia kenakan bola besi yang membuat langkahnya terseret dan terantuk. Namun Indi yakin ia bisa bahagia, mengubah penjara itu menjadi nirwana. Ia mulai berdoa.

 

-=o0o=-

 

Tidak lagi diingatnya berapa potongan kue kuning yang sudah mereka lewati. Poros hidup memang sedang bergulir berat. Indi memilih untuk menjadikannya satir. Menertawakan sesuatu yang sesungguhnya tidak lucu.

'Katanya, kalau dia ketemu kamu, dia mau mencakar mata kamu sampai keluar.'

Indi terbahak. 'Kenapa tidak dia sewa sniper atau langsung menembak saya pakai pistol betulan di tengah orang banyak ? Bukannya kalau begitu lebih monumental ? Lebih sophisticated ?'

Lei ikut tertawa. 'Kamu sudah kirim surat palsu itu, kan ? Ke kantor saya ?'

Mereka terpaksa membuat skenario 'bubaran', langkah praktis untuk menenangkan istri Lei yang mengamuk. Sebuah surat palsu yang membuat Indi tersiksa. Ia sadar itu cuma pura-pura, tapi sekadar menuliskannya pun pekerjaan yang menyakitkan.

Mereka lalu meneruskan percakapan. Satu jam yang indah dan langka. Kesempatan bercerita hal-hal remeh, tertawa, dan saling mengungkapkan kangen.

Tiba-tiba terdengar sayup telepon genggam berdering. 'Sebentar,' ujar Lei, lalu dengan tangkas menekan tombol hold.

Indi sudah hafal apa artinya, yakni: sabarlah menunggu ditemani hantu Beethoven yang terperangkap dalam kotak musik Fur Elise. Memprihatinkan, pikirnya selalu. Sebagai guru biola klasik, bunyi kotak musik yang tak bernyawa adalah siksa.

'Halo,' suara Lei kembali terdengar. Lebih berat.

'Semua baik-baik ?'

'Dia kurang enak badan. Tapi, ya sudah, tidak apa-apa.'

Namun Indi merasakan kegelisahan yang tak pergi-pergi lagi dari suara Lei. Tak sampai tiga menit, Lei menyudahi teleponnya.

'Maaf, tapi saya harus pulang.'

Indi mengerti, maka ia melepas Lei dengan santai. Bukankah demikian seharusnya ? Indi bertanya pada bayangan di cermin. Kondisinya dan Lei merupakan konsekuensi dari pilihan-pilihan mereka dahulu sebelum bertemu. Sudah sepantasnya kamu berbangga, Indi berkata lagi pada bayangan di cermin. Lei tidak memilih kabur sekalipun mau dan mampu. Ia bertahan karena tanggung jawab.

Sesuatu mulai disadari Indi. Bayangan itu kelamaan membatu, menggenggam telepon yang tak lagi tersambung. Dadanya terasa sesak, tambah lama tambah mendesak. Cepat-cepat ia mengatur pernapasan. Indi tahu apa akibatnya kalau salah bernapas sedikit saja. Itulah kenapa ia ikut kursus meditasi kilat, agar diajarkan menumpangkan derita dan kepenatan dalam gelembung-gelembung karbondioksida yang dibanjirkan keluar, serta berharap keberuntungan akan datang bersama gelembung oksigen yang masuk.

Embus... tarik... embus... tarik... impitan itu terlalu kuat, dan ia... salah. Ada beban tak seimbang yang menyelip keluar, menghancurkan konsentrasinya.

Bagai luapan sungai saat penghujan, air mata membanjir. Tersengal-sengal Indi mencoba membendung, bertahan untuk tetap kuat walau tak ada orang lain yang melihat - selain bayangan di cermin. Tapi bukankah justru dia yang paling Indi hindari ? Sambil menahan sengguk ia menduga-duga, adakah manusia lain yang sepertinya, merasa berdosa pada bayangannya sendiri.

Empat kali dalam dua tahun terakhir Indi sakit. Diagnosa semua dokter selalu sama: 'Anda stres'.

Tidak satu kali pun dari empat momen itu Indi punya kesempatan luks untuk ringan mengangkat telepon dan mengadu sakit, untuk kemudian mendapatkan Lei pulang, mengantarkannya ke dokter, atau sekedar mengambilkannya obat dan air putih.

Indi selalu merasa yang paling beruntung karena hanya kepadanyalah Lei memberikan cinta dengan sepenuh jiwa tanpa sisa. Jangan-jangan aku selama ini salah dan kamulah yang benar, tuding Indi pada bayangan di cermin. Sebenarnya ia orang yang paling sial. Cinta hanya retorika kalau tidak ada tindakan nyata, yang artinya selama ini ia dikenyangkan dengan bualan.

Merasa tidak sanggup menjalani sisa malam dengan rasa sesal, Indi menelepon bantuan gawat darurat: Ari, sahabat terdekatnya.

Ari langsung datang dan duduk di pinggir jendela. Sepotong kue kuning ada di sebelah wajah sahabatnya, belum sempat Indi cicipi karena sudah duluan disemprot: 'Apa kubilang ? Dia tidak datang lagi, kan ? Dan kamu masih bertahan ? Sinting !' seru Ari gemas. 'Coba berkaca, nilai diri kamu. Kamu perempuan baik-baik, pintar dan tidak layak menjalani semua ini.'

Aku justru keseringan berkaca, dan betul, aku memang tidak layak, balas Indi dalam hati. Satu kehormatan yang terlalu besar untuk bisa mencintai seperti ini.

'Saya tidak membenci Lei, kamu tahu itu, tapi di luar sana pasti ada orang yang bisa memberi kamu lebih.' Ari lalu meremas bahu Indi, menatapnya cemas sekaligus iba seperti menasihati anak kecil nakal, 'Kalian berdua sama-sama muda, tapi kamulah yang punya banyak kesempatan. Jangan cuma jadi alas kaki yang dipakai sembunyi-sembunyi.'

Secepat aliran listrik di jaringan saraf, secepat itu Indi memvisualisasikan sepasang sepatu tua yang disembunyikan di bawah tangga. Sepatu nyaman yang selalu dipakai ketika kaki pemiliknya letih. Namun ketika sang pemilik ingin menghadapi dunia, ia tak mungkin memilih sepatu itu. Akan dipakainya sepatu mentereng yang memang diperuntukkan sebagai pendampingnya. Dunia menuntut demikian. Sekalipun tidak nyaman, tapi itu kewajiban. Dan Lei, lagi-lagi, adalah orang yang bertanggung jawab.

'Mungkin...' Indi bergumam, 'memang lebih baik bersama seseorang yang tidak punya pilihan lain. Dia cuma punya aku, mau susah atau senang. Aku bukan alternatif.'

Ari tersenyum lega. Indi mulai bangun dari tidur panjangnya.

 

-=o0o=-

 

Ari, dan sahabat-sahabatnya yang lain, terpaksa kembali gigit jari. Indi batal menyerah. Ia dan Lei malah semakin ahli bergerilya. Sepotong kue kuninglah yang menjadi pengatur mekanis pasang surut kisahnya. Ari tahu persis fluktuasi itu, juga 'tempat sampah'-nya Indi yang lain, yang tertawa lebih lebar ketika Indi bahagia, dan menangis lebih keras jika ia sedih.

Kadang-kadang semua itu membuat Indi geli sekaligus bingung saat melaksanakan doa rutinnya. Apakah ia menghadap sebagai seorang penjahat... perusak... atau pihak yang harus dikasihani dan ditolong ? Impitan tak diundang itu tetap ada, tapi Indi sudah terlalu kebal. Matanya seperti kehabisan stok air mata. Sekarang, tak perlu repot lagi ia mengatur napas.

Tidak ada yang berubah dalam dunianya. Indi tetap Indi, dengan murid-murid kursus biolanya yang lucu-lucu, dan para orang tua yang menganggapnya teladan sempurna. Dengan lapang dada pula ia menerima keberadan dunia lain yang mencapkan aneka stigma keji untuk ia pikul. Indi tak menemukan ada yang salah juga di sana. Penjara yang ia pilih memberikan konsekuensi reputasi buruk. Dan jangan mimpi ada program perbaikan citra.

Setiap malam Indi duduk di pinggir jendela untuk berbicara pada sepotong kue kuningnya. Berusaha mengingatkan berulang-ulang, bahwa yang ia inginkan sungguhlah sederhana: setengah jiwanya yang selalu ikut pergi dengan Lei. Itu saja. Indi ingin jiwanya utuh.

 

-=o0o=-

 

Hujan datang membadai, memporak-porandakan malam. Indi terbangun oleh suara guntur dan telepon.

'Halo...' suara serak Indi mengandung curiga. Perasaannya tidak enak.

'Dia mencoba bunuh diri.'

Indi tercekat. Benaknya gamang meraba-raba sekuel dari kalimat Lei.

'Saya tidak tahu siapa yang dia sewa, yang jelas dia tahu semuanya, pertemuan-pertemuan kita, kenyataan bahwa kita tidak pernah berhenti berhubungan selama lima tahun ini...'

'Tapi ini bukan yang pertama kali, kan ? Bunuh diri selalu jadi ancaman favoritnya dari dulu,' potong Indi terbata.

'Kali ini dia betulan nekat, Indi. Hampir sebotol valium dia tenggak. Untung tidak terlambat. Kondisinya bisa diselamatkan.'

Perasaan Indi membisikkan masih ada sekuel yang perlu ditunggu.

'Kacaunya, dia sempat menuliskan satu surat yang bercerita tentang kita berdua, nama kamu disebut-sebut, dan dia anggap kamulah penyebab tindakannya...'

Masih ada lagi, batin Indi. Pasti masih.

'Siapa pun ada di pihak dia sekarang. Siapa yang mau membela kita ?'

Ini dia, Indi memejamkan mata. Pasti ini.

'Maafkan saya.'

Cukup.

'Tapi kamu mengerti situasinya, kan ?'

Cukup. Cukup.

'Saya tidak mungkin meninggalkan dia. Bayangkan, hidup matinya ditentukan keputusan saya ! Kalau saya pergi, apa lagi yang nanti dia bikin...'

Cukup. Cukup. Cukup.

'Saya janji, saya akan mengusahakan yang terbaik buat kamu, buat kita...'

Tolong diam. Tolong.

'Tapi tidak sekarang, tidak mungkin sekarang...'

Diam.

'Indi, maaf...'

Telepon itu ia tutup hati-hati, seolah mengunci jin di dalam botol, lalu Indi mencabut kabelnya, seolah menarik putus benang waktu. Langit keruh oleh awan mendung, Di mana engkau ? Kenapa tidak datang supaya bisa kucicipi rasamu yang tergetir ? Kerongkongannya tersedak. Inikah balasan sebuah ketulusan... sebuah keyakinan...

Seperti si buta yang mendadak melihat, Indi sontak tersadar bahwa penjara itu sudah menjadi hidupnya. Total. Dan sungguh ia tak siap. Rasa sesak yang akrab mengimpit dadanya, terus mendesak hingga tak lagi tertahan. Kelenjar air mata yang sudah lama dinonaktifkan memompa deras butir-butir air asin yang membuat kulit pipinya seperti meleleh. Doa-doa yang ia layangkan setiap malam selama lima tahun dirontokkan dari atas sana, berubah menjadi celaan dan penyesalan, menghujaninya bertubi-tubi. Indi tidak tahu apa saja yang sudah ia doakan, pasti terlalu banyak, karena hujan itu rasanya tak mau berhenti. Tiap rintik menusuk bagai pisau. Indi menyesal dulu terlalu banyak bicara.

Akhirnya, terjerembaplah ia mencium tanah kesia-siaan. Entah bagaimana caranya bangun. Indi terlalu mual, muak, dan hanya kepingin muntah.

 

-=o0o=-

 

Lei tidak pernah lagi menemaninya di pinggir jendela. Namun sepotong kue kuning itu selalu ada, selalu tepat waktu, hadir tanpa dosa.

Berbulan-bulan, Indi menutup tirai rapat-rapat, menyangkal kehadiran kue kuningnya, melawan rasa rindu dan sesal, menggantinya dengan rasa hambar yang dipabrikasi sendiri. Sampai akhirnya ia lelah dan menyerah.

Pada satu malam cerah di penghujung tahun, Indi membuka tirai, menemui langit yang penuh bintang. Dan, di sanalah dia... bulan pada awal dan akhir bulan, yang bertengger separuh di langit dengan warna menguning. Mentor bisu pelajaran terbesar dalam hidupnya. Sepotong kue kuning di tengah loyang hitam.

Puluhan kue kuning telah tersaji dalam piringnya, dan selalu Indi menebak-nebak cemas apakah rasanya manis atau pahit. Sekarang ia berhenti menebak. Keberaniannya malam itu; untuk berhadapan kembali dengan perasaannya sendiri; untuk mengakui bahwa cintanya tidak padam tapi bermutasi, memberi makna baru. Bulan kuningnya tak lebih dari pantulan Bumi yang terus berputar tanpa kompromi, hidup yang bergerak maju tanpa pernah bisa mundur.

Lama Indi mematung, merangkai pengertian sederhana yang mengubah pola hatinya perlahan-lahan. Terbayanglah sebuah bola besi yang ia kenal. Terbayanglah kepalan tangannya yang sudah membatu. Perlahan, jemari itu membuka. Indi dapat membayangkan dirinya berjongkok, menanggalkan pemberat yang bertahun-tahun terikat. Anak kunci itu selama ini ada di tangannya. Tak tahan ia untuk tidak tersenyum. Separuh jiwa yang ia pikir hilang ternyata tidak pernah ke mana-mana, hanya berganti sisi, permainan gelap terangnya matahari dan bulan.

Malam itu Indi menyeberang. Ia telah mampu mencinta tanpa takut kehilangan cinta.

 

Disadur dari buku : Filosofi Kopi (by : Dee)

 

Copyright © Wiliam, 2017 - All rights reserved