Kasihanilah, jiwaku

26-Juni-2002       Kahlil Gibran

 

Sampai kapan, jiwaku, kau kan terus-menerus meratap
Sementara kelemahanku masih berpikiran sehat ?
Sampai kapan kau akan menjerit
Sementara diriku tak punya apapun kecuali percakapan dengan orang
Demi menceritakan impian-impianku di sana ?

Renungkanlah, jiwaku,
Betapa kulewatkan hari-hariku dengan mendengarkan pengajaranmu
Pandanglah dengan cermat, penyiksaku, pandanglah jasmaniku
Disia-siakan dan dilemahkan lantaran memburumu
Dulu hatiku berkuasa
Kini menjadi abdimu;
Dulu kesabaranku laksana selimut hangat,
Kini dia penyiksaku
Dulu masa mudaku bagiku seorang teman
Tapi, hari ini menjadi bebanku
Inilah semua yang dilemahkan dewa-dewa
Apa langkah yang kau inginkan !

Telah kuingkari diriku
Dan, meninggalkan keriaan hidup
Dan, menghindari dari kemuliaan usiaku
Kini tiada yang tersisa padaku selain engkau
Maka, adililah diriku, dengan keadilan,
Karena keadilan kemegahanmu,
Atau, panggillah Sang Maut dan bebaskan diriku
Dari penjara hakikatmu

Kasihanilah, jiwaku
Lantaran dirimu menyusahkanku
Dengan cintapun tak bisa kuterima
Kau dan cinta laksana kekuatan tunggal,
Diriku dan benda, berbagi kelemahan
Apakah pertarungan antara kekuatan dan kelemahan akan abadi ?

Kasihanilah, jiwaku
Karena kau perlihatkan nasib baik padaku dari kejauhan
Kau dan nasib baik ada di puncak gunung;
Diriku dan kemalangan jurang dalam
Yang tinggi dan rendah akankah bersua ?

Kasihanilah, jiwaku
Karena telah kau singkapkan keindahan padaku
Sekaligus menyembunyikannya
Engkau dan keindahan ada dalam cahaya;
Diriku dan kebodohan di dalam kegelapan
Cahaya dan kegelapan, mungkinkah bersatu ?

Dikau, wahai jiwa, riang-gembira di sana
Sebelum keriaan menjelang
Tubuh ini penderitaan dari kehidupan
Padahal masih hidup

Kau yang berjalan menuju Yang Tiada Terhingga, dengan tergesa;
Tubuh ini langkahnya tertatih menuju kehancuran
Dirimu tidak lamban dan tidak pula tergesa-gesa
O jiwa, inilah puncak putus-asa
Dirimu diangkat tinggi oleh Surga;
Tubuh ini merosot, turun bersama terikan bumi
Kau tak melipurnya,
Dan, dia tiada berkata seperti engkau, "Kerjakanlah dengan baik."
Inilah kebencian, jiwaku

Dirimu, O jiwa, kaya dalam kearifanmu;
Tubuh ini miskin dalam pemahamannya
Kau tak berurusan dengan kemurahan hati,
Dan, dia tak pula mengingatmu
Inilah rentetan keadaan yang amat menyedihkan, jiwaku

Dirimu berjalan di malam sunyi
Menyambangi kekasih,
Dan merasa damai dalam rangkulan dan cinta-kasihnya
Tubuh ini tetap tinggal
Pun disiksa pemisahan dan kerinduan
Kasihanilah daku, jiwaku

Disadur dari buku "Airmata Dan Senyuman"

 

Copyright © Wiliam, 2018 - All rights reserved