Jiwa

26-Juni-2002       Kahlil Gibran

 

Dan, Tuhan dari semua Tuhan memisahkan sebuah Jiwa dari Dirinya dan menciptakan padanya Keindahan. Dia karunia jiwa itu kelembutan angin di kala Fajar dan semerbak bunga dari dataran dan kelembutan cahaya rembulan. Lalu, Dia karunia kepadanya secawan keriangan, seraya berfirman : "Kau takkan mereguknya kecuali jika kau lupakan Masa Lalu dan tak memperdulikan Masa Depan." Dan Dia karuniai kepadanya secawan kesedihan, seraya berfirman : "Kau akan mereguknya dan tahu dari mana makna Kegembiraan Hidup berasal." Kemudian Dia meletakkan di sana sebuah Cinta yang akan mengabaikannya dengan desahan pertama dari kepuasan; dan sebentuk Kemanisan yang akan berlalu dari sana bersama kata pertama yang diucapkan.

Dan , Dia bermaksud menurunkan padanya pengetahuan dari langit demi memandunya di jalan Kebenaran. Dan, ditanamkan di kedalamannya Penglihatan agar dia dapat melihat yang tak nampak. Di sana, Dia ciptakan perasaan yang mengalir bersama citra dan wujud malaikat; Dan, membalutnya dengan pakaian Kerinduan yang ditenun oleh bidadari dari helai-helai pelangi. Padanya Dia letakkan kegelapan Kebingungan, yang merupakan bayangan Cahaya. Dan, Tuhan mengambil api dari tungku perapian Kemarahan dan setiupan Angin gurun kebodohan dan Pasir pantai Keegoisan, dan Tanah dari bawah kaki zaman, dan Dia ciptakan manusia.

Dia berikan untuknya Kekuatan buta untuk memberontak dalam kegeraman bersama kegilaan dan terhenyak di hadapan sang nafsu. Dan, Tuhan dari semua Tuhan tersenyum meratap karena tahu bahwa sebuah Cinta bebas dan tanpa batas dan Ia kawinkan Manusia dengan Jiwanya.

Disadur dari buku "Airmata Dan Senyuman"

 

Copyright © Wiliam, 2018 - All rights reserved