Garam Dan Danau

15-Januari-2004       Renungan

 

Ada sebuah kisah tentang seorang bapak tua yang sangat bijaksana. Ia tinggal sendirian di sebuah lereng gunung. Pada suatu senja datanglah seorang pemuda yang berjalan dengan langkah terseret-seret dan dengan wajah yang kusut tidak bersemangat. Rupanya pemuda itu mengalami banyak masalah di dalam hidupnya sehingga dia sangat putus asa.

Sambil sesekali menarik nafas panjang, ia menceritakan semua permasalahannya kepada bapak tua itu. Lama bapak tua mendengarkan keluhan si pemuda kemudian dia mengambil segenggam garam dan menyuruh si pemuda mengambil secangkir air. Oleh bapak tua garam itu ditaburkan ke dalam cangkir lalu menyuruh pemuda tadi mencicipinya. Asin... asin sekali bahkan terasa pahit. Garamnya kebanyakan, komentar sang pemuda setelah mencicipi air itu. Lalu pak tua menggandeng tangan sang pemuda menuju sebuah danau yang dimaksud. Pak tua lalu menaburkan segenggam garam ke dalam danau tersebut.

Sesudah itu ia mempersilahkan si pemuda mengambil air danau itu dan meminumnya. "Bagaimana rasanya?" tanya pak tua. "Segar dan tidak pahit. Saya sama sekali tidak merasakan garamnya", sahut si pemuda. "Sekarang duduklah, aku akan mengajarkan sesuatu kepadamu." kata pak tua lalu bersandar di sebuah pohon besar. "Begini,... Di dalam hidup ini kita tidak lepas dari pahitnya kehidupan seperti halnya garam yang kau cicipi tadi. Tetapi pahit tidaknya akan tergantung pada seberapa besar wadah yang kita sediakan untuk menampungnya walaupun jumlah dan rasa pahit itu sama. Penderitaan, penyakit, tekanan, kekecewaan, kesepian, penolakan dll selalu ada selama kita masih hidup.

Wadah itu adalah hati kita. Ketika kepahitan hidup datang, lapangkanlah hatimu untuk menerima dan menjalaninya. Jika wadah yang kita miliki terlalu kecil sehingga tidak siap menerima masalah yang datang, saat itulah kita akan merasakan kepahitan dan beban itu membuat kita menderita." Mereka berdua berjalan pulang karena hari itu mereka telah belajar sesuatu yang berarti. Pak tua yang bijaksana itu selalu menyediakan garam karena ia yakin, setelah pemuda itu pulang masih akan ada lagi orang yang datang padanya membawa keluh kesah mereka.

Hal yang dapat membuat kita berlapang dada serta menyediakan hati selebarnya untuk menampung segala kepahitan adalah janji penyertaan Tuhan dan kepemilikanNya atas hidup kita. Tuhan tahu seberat apa beban yang sanggup kita pikul dan Dia juga tahu apa saja yang akan Dia lakukan untuk menjadikan kita orang-orang yang tangguh.

 

Copyright © Wiliam, 2019 - All rights reserved