Diam [2000]

06-Desember-2006       Filosofi Kopi

 

Malam memuram. Diammu menginfeksi udara dan membuat dunia sungkan bersuara. Dunia 4 x 6 meter tempat kita duduk berdua.

Lenganmu kautarik menjauh untuk merengkuh dirimu sendiri. Tidak apa-apa. Aku mengerti. Duka membuatmu demam, dibuka kedinginan tapi dibungkus dua pasang lengan bikin kamu keringatan. Bukan berarti saya tidak butuh kamu, dulu sekali kamu memperingatkan.

Aku mengerti. Kesedihan selalu membawamu pulang ke rahim ibu tempat kau meringkuk nyaman sendirian padahal tidak. Ada dunia di sekelilingmu. Ada aku di sampingmu. Tapi kamu mendamba rasa sendiri itu.

Diammu memapahku ke ujung pertahanan. Dan akhirnya kutersedak oleh hampa. Tak satu pun boleh menodai diammu. Telan napas itu. Bungkus dan simpan di kantong untuk nanti dilarutkan di sungai.

Lamat-lamat, suara ramai membubung, merubung dunia 4 x 6 meter tempat kita duduk berduka. Kudengar gerundel, kudengar gerutu, terkadang batuk, decak lidah, hingga teriakan yang membuatku gemetar. Terakhir, terdengar isak pelan. Namun siluetmu masih diam sempurna.

Bagaimana mungkin kamu jadikan tubuhmu sangkar bagi perasaan ? Bukankah perasaanlah kandang dari jasad ini ? Dalam diammu, aku mendengar banyak suara. Diammu berkata-kata.

Tangisanmu yang tak terlihat merobek ruang waktu dan menghampiriku dengan caranya sendiri. Mari, kususutkan air mata itu, kukecup keningmu halus, dan kutidurkan kepalamu di atas perutku yang hangat. Mari...

Kau dan aku mengembuskan napas. Tak lagi pengap. Tidak ada yang bergerak. Namun diam itu telah runtuh oleh diam.

 

Disadur dari buku : Filosofi Kopi (by : Dee)

 

Copyright © Wiliam, 2017 - All rights reserved