Cuaca [1998]

07-Desember-2006       Filosofi Kopi

 

Membicarakan cuaca.

Cuaca bagi kami adalah metafora. Menanyakan cuaca menjadi ungkapan yang digunakan saat masing-masing pihak menyimpan hal lain yang gentar diutarakan.

'Bagaimana cuacamu ?'
'Aku biru.'
'Aku kelabu.'

Keangkuhan memecah jalan kami, kendati cuaca menalikannya. Kebisuan menjebak kami dalam permainan dugaan, lingkaran tebak-menebak, agar yang tersirat tetap tak tersurat.

'Bagaimana cuacamu ?'
'Aku cerah, sama sekali tidak berawan. Kamu ?'
'Bersih dan terang. Tak ada awan.'

Batinku meringis karena berbohong. Batinnya tergugu karena dibohongi. Namun kesatuan diri kami telah memutuskan demikian : menampilkan cerah yang tak sejati karena awan mendung tak pantas jadi pajangan.

Cuaca demi cuaca melalui kami, dan kebenaran akan semakin dipojokkan. Sampai akhirnya nanti, badai meletus dan menyisakan kejujuran yang bersinar. Entah menghangatkan atau menghanguskan.

 

Disadur dari buku : Filosofi Kopi (by : Dee)

 

Copyright © Wiliam, 2017 - All rights reserved