Buddha Bar [2005]

08-Desember-2006       Filosofi Kopi

 

Nelly. Probo. Omen. Jack. Bejo.
Mereka berlima. Mereka muda. Mereka bahagia. Mereka lajang. Mereka bersahabat. Mereka raja-raja dunia.

Tidak semua dari mereka laki-laki sekalipun istilah 'raja' dipakai. Ada satu perempuan, Nelly, yang kurang berminat jadi ratu apabila berkonotasi jabatan nomor dua. Mereka semua sama. Tenaga-tenaga kerja masih bau toga milik perusahaan-perusahaan besar yang menggaji sarjana kemarin sore dengan gaji mini. Godaan maksi. Lima tequila shot mereka tenggak bersama. Sesaat kemudian hadir sensasi meledak di kepala. Berakhirlah sisa gaji bulan ini di jumput garam dan ampas jeruk lemon, terbang bersama lolongan perempuan India yang melatari dentuman bas dan drum. Lagu seperti itu digila-gilai sekarang. Fusi antara dua budaya. Buddha dan bar. Tequila dan kacang bawang. Disko dan mantra.

Segalanya melebur harmonis di sudut itu. Selama ada lima mereka dan bukan empat atau tiga apalagi dua.

 

-=o0o=-

 

Probo si pengikut Dewa Hermes. Dunia berputar berlipat-lipat kali lebih cepat bila Probo yang jadi poros. Kesima dalam mata Nelly tak bisa ditutupi setiap kali Probo bergerak, berkelebat. Otot-otot jantan yang lencir dan lentur, meliuk dan menggeliat. Sinar mata Probo hangat, pertanda banyak cinta di sana. Probo mencintai dirinya, menjilati kulitnya sendiri bila kepingin, menari sambil menghadap cermin dan betulan menggilai apa yang dilihatnya di sana. Ia mencintai semua yang di dekatnya tanpa kecuali. Tak ada konsep orang asing bagi Probo. Ia percaya mereka adalah satu. Tuhan dan dirinya satu.

Jiwa Nelly dibasuh saat panas dan peluh dari lengan-lengan Probo merengkuh tubuhnya, membisikkan kata cinta. Nelly selalu berandai-andai, cinta itu hanya untuk dirinya seorang. Namun Probo seolah melampaui itu semua. Probo yang berkata cinta cenderung mirip Nabi mengatakan cinta pada pengikutnya. Seorang bintang pada penggemar.

Probo tak terkendali. Setelah pelukan lima detik yang penuh kesungguhan, ia akan meloncat ke sana ke mari, memberi pelukan dan kata cinta pada mereka yang meminta. Nelly hanya mampu mengikuti dari belakang, berteriak mengjngatkan Probo : Bo! Jangan lupa minum air putih! Jangan sampai dehidrasi! Di tangannya, Nelly selalu menggenggam stick light, berjaga-jaga. Karena hanya setiap kali otot mata Probo mulai keram, Nelly berkesempatan meliuk, menggeliat, dan membuat Probo tergila-gila.

 

-=o0o=-

 

Omen selalu percaya dirinya adalah perempuan dalam tubuh lelaki, tapi perempuan itu lesbi, jadi Omen yang bertubuh laki-laki masih menyukai perempuan. Sembilan puluh persen energinya feminin, sepuluh persen maskulin - cukupan untuk mendongkrak Pavlov, celetuk Omen, mengekeh sambil menunjuk ke arah penisnya, satu-satunya komponen bernama asing di dirinya yang familiar. Apa pun tentang Omen terasa akrab. Perempuan selalu nyaman di dekatnya. Ia akan menyuruh satu dunia menunggu demi mendengarkan sebaris keluh kesah. Karena kekuatan terbesar manusia bukan pada berlari, tapi diam. Omen kerap mengatakan itu pada Probo.

Nelly ingin menjadi bagian tetap dari diam yang dimaksud Omen. Ketenangan Dewi Hestia. Siapa yang tidak ingin ? Omen yang tegas menutup pintu dan jendela agar total mengabdi pada mereka yang membutuhkan telinganya. Omen yang tega berkata 'cukup' pada Piala Dunia, mematikan televisi untuk tenang bereuni dengan Tuhan dalam dirinya, sekalipun Piala Dunia empat tahun sekali dan reuni itu empat kali sehari. Siapa yang tidak ingin ? Meski ketenangan itu harus dibayar mahal.

Memiliki Omen sama dengan memiliki telepon umum. Baru nyambung bila dimasukkan koin. Sisanya ia tidur. Bergesernya kerak bumi tak mengubah letak kepala seorang Omen dari bantal. Dan ketika makan, lambung Omen seolah memuai, memenuhi sembilan puluh persen rongga tubuhnya. Sepuluh persen untuk tempat tinja. Dan Nelly hanya bisa menggerutukan itu kala Omen lelap, kala sibuk memunguti puntung-puntung kertas Bear Brand, kala menyikat karpet dari jejak daun kering, kala menyemprot kalap kamar Omen dengan pengharum kalengan, sebelum Mama-nya Omen kembali marah-marah karena menyangka ada yang membakar sampah malam-malam.

 

-=o0o=-

 

Malam ini adalah idenya Jack. Makanya hadir tequila, lemon, dan garam. Yang lain berhenti sampai shot kedua, bahkan pertama, tapi tidak Jack. Ia baru berhenti kalau kepalanya mulai pusing, dan untuk sampai ke tahap itu, dibutuhkan malam yang ekstra panjang.

Mereka sering debat terbuka. Jack yang paling sering dipojokkan. Dia disebut pengecut, karena hanya berani di jalur yang di restui pemerintah, yang dilindungi hukum. Padahal jelas-jelas paling tidak ekonomis dan efek sesudahnya paling tidak enak. Jack tak ambil pusing. Setiap kali ia mengundang, keempat sahabatnya akan selalu datang. Tidak ada yang tahan jauh darinya. Jack adalah kartu joker di dalam setumpuk kartu angka dan kartu ningrat. Bagaimana mungkin ia dilewatkan ?

Tertawa merupakan terapi antistres terbaik, terapi antikerut wajah tercanggih. Dan semua manfaat tertawa akan didapatkan dengan berada di radius auranya. Bertemu Jack berarti tertawa sepanjang malam. Jack on the rocks. Itu kombinasi terdashyat. Sesuatu dalam etanol tersambung dengan kualitas terbaik dalam dirinya.

Kalau memang hidup yang cuma sekali ini ingin dihabiskan dengan keceriaan, positivitas, Nelly akan memilih Jack. Tapi hidup juga aneh. Saat kutub positif hendak mendominasimu, seketika separuh dirimu menolak, mengingatkan perlunya tempat sama besar untuk kutub negatif; rumah bagi kesengsaraan, kekecewaan, dan air mata sedih. Pada saat yang bersamaan Jack menjadi sosok yang membingungkan. Ada yang tidak alami darinya. Jack on the rocks - seperti tak memiliki ruang untuk berduka. Karena itu Nelly bimbang - stirred, and shaken.

 

-=o0o=-

 

Semua tahu mengapa Bejo ikut serta. Karena drum dan bas. Karena lolongan perempuan India. Karena fusi antara detak jantung dan detak dee-jay. Bejo hadir untuk menikmati musik dari sistem canggih yang dipasang dengan perhitungan matematis. Itu saja. Bejo di tengah-tengah mereka ibarat perawan dalam sarang penyamun; perawan suci yang mencuci kebusukan dunia lewat keturunannya; adalah perawan - titik. Nelly yang tahu persis itu.

Dalam grup kecil mereka, Bejo menjadi maskot sekuritas dan stabilitas. Santo Bejo, demikian panggilannya, bukan cuma berguna bila tak ada lagi yang cukup sadar untuk berkendara. Santo Bejo akan berkoordinasi dengan satpam untuk menggotong Jack yang mengonggok di toilet, mengeluarkan angin dari tubuh Probo dengan kemampuan refleksiologinya, mengerjakan sebagian tugas nyata Omen apabila lupa pulang dari alam nenek moyang. Tanpa Bejo, mereka semua seperti meja berkaki tiga. Timpang.

Bejo tanpa mereka adalah sebatang kayu.

Banyak pertanyaan yang muncul saat tanganmu memegang selonjong kayu. Mau kau jadikan apa ? Nelly bertanya pada dirinya setiap hari. Dan pada setiap penghujung hari, jawaban yang ia pilih tetap sama: Bejo hanya sebatang kayu tanpa mereka.

 

-=o0o=-

 

Segalanya melebur harmonis di sudut itu. Selama ada lima dan bukan empat atau tiga apalagi dua. Selama Nelly hanya menerima tanpa perlu memilih. Tanpa dirinya, mereka hanya meja berkaki empat tanpa pengagum.

 

Disadur dari buku : Filosofi Kopi (by : Dee)

 

Copyright © Wiliam, 2017 - All rights reserved