27. Apa Katamu?

10-Oktober-2002       Burung Berkicau

 

Seorang guru menanamkan kebijaksanaan dalam hati muridnya, bukan di atas halaman buku. Si murid mungkin mengendapkan kebijaksanaan itu selama tiga puluh atau empat puluh tahun di dalam hatinya, sampai ia menemukan seseorang yang siap sedia untuk menerimanya. Itulah tradisi Zen.

 

***

 

Guru Zen Mu-nan menyadari bahwa ia hanya mempunyai satu orang penerus, yaitu muridnya Shoju. Pada suatu hari ia mengundangnya dan berkata: 'Sekarang aku sudah tua, Shoju, dan hanya engkaulah yang akan meneruskan ajaranku. Terimalah kitab ini, yang telah diwariskan selama tujuh turunan dari guru ke guru. Aku sendiri menambah beberapa catatan di dalamnya yang kiranya akan berguna bagimu. Simpanlah kitab ini, sebagai tanda bahwa engkau penerusku.'

'Lebih baik kitab itu Bapak simpan sendiri saja,' kata Shoju. 'Saya menerima ajaran Zen dari Bapak secara lisan, maka saya lebih senang meneruskannya secara lisan pula.'

'Aku tahu, aku tahu,' kata Mu-nan dengan sabar. 'Namun kitab ini sudah disimpan selama tujuh turunan dan mungkin ada gunanya bagimu. Maka, terimalah dan simpanlah baik-baik.

Keduanya kebetulan berbicara di dekat perapian. Begitu diterima Shoju, kitab itu langsung dilemparkannya ke dalam api. Ia tidak tertarik pada kata-kata tertulis.

Mu-nan yang sebelumnya dikenal sebagai orang yang tidak pernah marah, berteriak: 'Kau melakukan perbuatan biadab!'

Shoju juga berteriak: 'Bapak mengucapkan kata-kata biadab!'

 

***

 

Sang Guru berbicara dengan penuh wibawa tentang apa yang sudah dialaminya sendiri. Ia tidak mengutip satu buku pun.

 

Copyright © Wiliam, 2019 - All rights reserved