13. Aku Memotong Kayu

30-September-2002       Burung Berkicau

 

Ketika seorang guru Zen mencapai penerangan budi, ia menulis baris-baris berikut ini untuk memperingatinya:

'Wahai, keajaiban yang mengagumkan: Aku memotong kayu! Aku menimba air dari sumur!'

 

Bagi kebanyakan orang, tidak ada sesuatu yang mengagumkan dalam perbuatan sehari-hari seperti menimba air dari sumur atau memotong kayu. Sesudah penerangan budi sebetulnya tidak ada sesuatu pun yang berubah. Segala sesuatu tetap sama. Hanya saja sejak saat itu hatimu penuh rasa kagum. Pohon masih tetap pohon. Orang -orang masih tetap sama seperti dulu, demikian juga engkau. Kehidupan berjalan terus, tiada bedanya. Mungkin kamu masih pemurung atau pemarah, penuh pertimbangan atau gegabah, sama seperti sebelumnya. Tetapi ada satu perbedaan besar: Sekarang semuanya itu kau lihat dengan mata yang berbeda. Engkau semakin terlepas dari semuanya. Dan hatimu penuh dengan rasa kagum.

Inilah inti dari kontemplasi*: ada rasa kagum.

Kontemplasi berbeda dengan ektase**, karena ektase membuat orang mengasingkan diri. Seorang kontemplatif yang telah mendapat penerangan budi tetap akan memotong kayu atau menimba air dari sumur. Kontemplasi berbeda dengan menikmati keindahan, karena menikmati keindahan (sebuah lukisan atau matahari terbenam) menimbulkan kepuasan estesis***, sedangkan kontemplasi menimbulkan rasa kagum - entah apa yang dilihat, matahari terbenam atau sebongkah batu saja.

Itulah keistimewaan yang terdapat pada anak kecil: Sering ia merasa kagum. Maka selayaknya ia masuk ke dalam Kerajaan Surga.

* kontemplasi (Lat.): salah sebuah metode berdoa dengan mengamati penuh perhatian peristiwa atau obyek yang direnungkan

** ektase (Yun.): keadaan terpesona, sehingga pada saat itu lupa segala-galanya

*** estesis (Yun.): yang berkaitan dengan nilai keindahan

 

Copyright © Wiliam, 2019 - All rights reserved