13. Aku Memotong Kayu
Ketika seorang guru Zen mencapai penerangan budi, ia menulis baris-baris berikut ini untuk memperingatinya:
‘Wahai, keajaiban yang mengagumkan: Aku memotong kayu! Aku menimba air dari sumur!’
personal site of W. Wiliam Wong
Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih karena Anda telah menyempatkan diri untuk mengunjungi situs saya ini. Di sini Anda bisa mendapatkan artikel-artikel mengenai I.T., puisi, prosa, humor dan lain-lain. Silahkan pilih kategori di bawah, untuk melihat topik-topik yang saya minati.
Selamat menikmati kunjungan Anda di situs saya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kesempatan Anda untuk melihat-lihat situs saya.
Hormat saya,
W. Wiliam Wong
Ketika seorang guru Zen mencapai penerangan budi, ia menulis baris-baris berikut ini untuk memperingatinya:
‘Wahai, keajaiban yang mengagumkan: Aku memotong kayu! Aku menimba air dari sumur!’
Orang Hindu memperkembangkan suatu gambaran yang indah mengenai hubungan antara Tuhan dan ciptaanNya. Tuhan ‘menarikan’ ciptaanNya. Ia adalah sang Penari dan ciptaan adalah tarianNya. Suatu tarian berbeda dengan seorang penari, tetapi tidak bisa ada jika yang menarikannya juga tidak ada. Engkau tidak dapat membungkus tarian itu dan membawanya pulang, jika engkau menyenanginya. Begitu gerak penari [...]
‘Maaf kawan,’ kata seekor ikan laut kepada seekor ikan yang lain. ‘Anda lebih tua dan lebih berpengalaman daripada saya. Di manakah saya dapat menemukan laut? Saya sudah mencarinya di mana-mana, tetapi sia-sia saja!’
‘Laut,’ kata ikan yang lebih tua, ‘adalah tempat engkau berenang sekarang ini.’
‘Ha? Ini hanya air saja! Yang kucari adalah laut,’ sangkal ikan yang [...]
Sang Guru ditanya: ‘Apakah kerohanian itu?’
Jawabnya: ‘Kerohanian yang sejati adalah kerohanian yang berhasil membuat orang melakukan perubahan hati.’
‘Tetapi kalau saya memakai cara lama yang diwariskan para Guru terdahulu, bukanlah itu kerohanian juga?’
‘Bukan kerohanian kalau tidak berfungsi merubah dirimu. Selimut sudah bukan selimut lagi kalau tidak menghangatkan tubuhmu.’
‘Jadi kerohanian itu berubah?’
‘Manusia berubah, demikian pula kebutuhannya. Maka [...]
How do I love thee? Let me count the ways.
I love thee to the depth and breadth and height
My soul can reach, when feeling out of sight
For the ends of Being and ideal Grace.
I love thee to the level of every day’s.
Most quiet need, by sun and candlelight.
I love thee freely, as men strive for [...]
Sekalian orang tercengang-cengang ketika melihat Mullah* Nasruddin menelusuri lorong-lorong seluruh kampung dengan keledainya.
‘Apakah yang kau cari, Mullah?’ tanya mereka.
‘Aku mencari keledaiku.’ jawabnya seraya cepat berlalu.
Nasruddin memuati keledainya dengan dua karung garam untuk dibawa ke pasar. Garam itu larut ketika keledainya menyebrangi sungai. Sesampainya di tepi, binatang itu berlari-lari berputar dengan girang, karena bebannya menjadi ringan. Tetapi Nasruddin kesal hatinya.
‘Apa yang kau lakukan?’ tanyaku kepada seekor kera, ketika aku melihatnya sedang mengangkat ikan dari air dan meletakkannya di atas sebatang pohon.
‘Kuselamatkan dia, agar jangan mati tenggelam,’ jawab kera.
Yang bagi seseorang merupakan makanan, bagi yang lain menjadi racun.
Matahari yang membuat burung garuda bisa melihat, membutakan mata burung hantu.
Nasruddin menjadi perdana menteri raja. Sekali peristiwa, ketika ia berkeliling istana, ia melihat, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seekor burung elang milik raja.
Nasruddin belum pernah melihat burung merpati seperti ini. Maka ia pun mengambil gunting, lalu memotong kuku, sayap dan paruh burung elang itu.
Seekor Gajah berkubang dengan santainya di sebuah kolam di tengah hutan. Tiba-tiba seekor tikus mendekatinya. Ia menyuruh gajah itu supaya segera keluar dari kolam.
‘Tidak mau,’ kata gajah. ‘Aku sedang bersantai dan tidak mau diganggu!’
‘Detik ini juga engkau harus keluar!’ desak tikus.
‘Lho, mengapa?’ tanya gajah.
‘Alasannya hanya akan kukatakan bila engkau sudah keluar dari kolam,’ jawab tikus.