Wednesday, 02-Oct-2002 by wiliam
Buddha pernah ditanya: ‘Siapakah yang disebut orang suci?’ Jawabnya: ‘Setiap jam terbagi atas sejumlah detik tertentu, dan setiap detik ada bagian-bagiannya lagi. Barang siapa mampu memberi perhatian penuh pada setiap bagian detik ini, sungguh pantas disebut orang suci.’
Read More
Monday, 30-Sep-2002 by wiliam
Tidak ada seorang murid Zen pun yang berani mengajar, sebelum ia pernah hidup bersama Gurunya paling sedikit sepuluh tahun lamanya.
Tenno, sesudah berguru selama sepuluh tahun, menjadi seorang pengajar. Pada suatu hari ia berkunjung kepada Guru Nan-in. Waktu itu hari hujan, maka Tenno memakai bakiak dan membawa payung.
Ketika Tenno masuk, Nan-in berkata kepadanya: ‘Engkau meninggalkan bakiak [...]
Read More
Monday, 30-Sep-2002 by wiliam
Choko, anjingku, duduk dengan penuh perhatian. Telinganya tegak, ekornya mengibas tegang dan matanya memandang tajam ke atas pohon. Ia mengamati gerak-gerik seekor kera. Hanya satu yang menguasai seluruh kesadarannya: kera. Dan karena ia tidak mempunyai akal budi, tidak ada pikiran apapun yang mengganggu pusat perhatiannya. Tidak ada pikiran tentang apa yang akan dimakannya nanti malam, [...]
Read More
Monday, 30-Sep-2002 by wiliam
Ketika seorang guru Zen mencapai penerangan budi, ia menulis baris-baris berikut ini untuk memperingatinya:
‘Wahai, keajaiban yang mengagumkan: Aku memotong kayu! Aku menimba air dari sumur!’
Read More
Monday, 30-Sep-2002 by wiliam
Orang Hindu memperkembangkan suatu gambaran yang indah mengenai hubungan antara Tuhan dan ciptaanNya. Tuhan ‘menarikan’ ciptaanNya. Ia adalah sang Penari dan ciptaan adalah tarianNya. Suatu tarian berbeda dengan seorang penari, tetapi tidak bisa ada jika yang menarikannya juga tidak ada. Engkau tidak dapat membungkus tarian itu dan membawanya pulang, jika engkau menyenanginya. Begitu gerak penari [...]
Read More
Saturday, 28-Sep-2002 by wiliam
‘Maaf kawan,’ kata seekor ikan laut kepada seekor ikan yang lain. ‘Anda lebih tua dan lebih berpengalaman daripada saya. Di manakah saya dapat menemukan laut? Saya sudah mencarinya di mana-mana, tetapi sia-sia saja!’
‘Laut,’ kata ikan yang lebih tua, ‘adalah tempat engkau berenang sekarang ini.’
‘Ha? Ini hanya air saja! Yang kucari adalah laut,’ sangkal ikan yang [...]
Read More
Sunday, 22-Sep-2002 by wiliam
Sang Guru ditanya: ‘Apakah kerohanian itu?’
Jawabnya: ‘Kerohanian yang sejati adalah kerohanian yang berhasil membuat orang melakukan perubahan hati.’
‘Tetapi kalau saya memakai cara lama yang diwariskan para Guru terdahulu, bukanlah itu kerohanian juga?’
‘Bukan kerohanian kalau tidak berfungsi merubah dirimu. Selimut sudah bukan selimut lagi kalau tidak menghangatkan tubuhmu.’
‘Jadi kerohanian itu berubah?’
‘Manusia berubah, demikian pula kebutuhannya. Maka [...]
Read More
Saturday, 21-Sep-2002 by wiliam
How do I love thee? Let me count the ways.
I love thee to the depth and breadth and height
My soul can reach, when feeling out of sight
For the ends of Being and ideal Grace.
I love thee to the level of every day’s.
Most quiet need, by sun and candlelight.
I love thee freely, as men strive for [...]
Read More
Friday, 20-Sep-2002 by wiliam
Sekalian orang tercengang-cengang ketika melihat Mullah* Nasruddin menelusuri lorong-lorong seluruh kampung dengan keledainya.
‘Apakah yang kau cari, Mullah?’ tanya mereka.
‘Aku mencari keledaiku.’ jawabnya seraya cepat berlalu.
Read More
Friday, 20-Sep-2002 by wiliam
Nasruddin memuati keledainya dengan dua karung garam untuk dibawa ke pasar. Garam itu larut ketika keledainya menyebrangi sungai. Sesampainya di tepi, binatang itu berlari-lari berputar dengan girang, karena bebannya menjadi ringan. Tetapi Nasruddin kesal hatinya.
Read More