Archive for the ‘Filosofi Kopi’ Category

  • Sepotong Kue Kuning [1999]

    Kulit putih itu tampak kontras dengan langit hitam. Sering Lei mengeluh, kulitnya terlampau putih untuk seorang pria. Namun Indi tidak menemukan alasan untuk mengeluh. Dengan tatapan kagum dan cinta, Indi meraba kulit Lei perlahan-lahan, sama takzimnya dengan menghayati kehalusan sutera yang ditenun ulat. Dan di ujung perjalanan jemarinya, Indi menemukan apa yang ia cari. Sepotong [...]

  • Lara Lana [2005]

    Sederet angka mencuat dari kertas putih, menusuk mata Lana. Ada sebersit takjub juga ngeri. Seberantak angka yang susah dihafal mampu membongkar kenangan usang dan memberinya makna baru. Dia yang baru. Aku yang usang.
    Ruang tunggu selalu memancing dilema dalam hatinya, tapi tidak pernah seperti ini. Lana betul-betul tergerak untuk menelpon. Mungkin karena Lana sudah tak yakin [...]

  • Buddha Bar [2005]

    Nelly. Probo. Omen. Jack. Bejo.
    Mereka berlima. Mereka muda. Mereka bahagia. Mereka lajang. Mereka bersahabat. Mereka raja-raja dunia.
    Tidak semua dari mereka laki-laki sekalipun istilah ‘raja’ dipakai. Ada satu perempuan, Nelly, yang kurang berminat jadi ratu apabila berkonotasi jabatan nomor dua. Mereka semua sama. Tenaga-tenaga kerja masih bau toga milik perusahaan-perusahaan besar yang menggaji sarjana kemarin sore [...]

  • Cetak Biru [1998]

    Sewujud bangunan hadir di setiap kepala, tujuan yang mendenyutkan nyawa ke dalam cetak biru. Satu demi satu batu mimpi tersusun rapi, berlandaskan fondasi mantap, terekatkan semen yang kuat. Lalu bangunan itu dilengkapi dan digenapi, sampai lahirlah utuh ke dunia materi.
    Setiap kepala memiliki rancangan bermacam-macam, pilihan bahan yang berbeda-beda. Ada yang bahagia dengan gubuk sederhananya, ada [...]

  • Spasi [1998]

    Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda ? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi ?
    Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak ? Dan saling menyayang bila ada ruang ? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
    Napas akan melega [...]

  • Lilin Merah [1998]

    Ada kalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun yang terbaik. Keheningan menghadirkan pemikiran yang bergerak ke dalam, menembus rahasia terciptanya waktu.
    Keheningan mengapungkan kenangan, mengembalikan cinta yang hilang, menerbangkan amarah, mengulang manis keberhasilan dan indah kegagalan. Hening menjadi cermin yang membuat kita berkaca, suka atau tidak pada hasilnya.
    Lilin merah berdiri megah di atas glazur, kilau apinya menerangi [...]

  • Cuaca [1998]

    Membicarakan cuaca.
    Cuaca bagi kami adalah metafora. Menanyakan cuaca menjadi ungkapan yang digunakan saat masing-masing pihak menyimpan hal lain yang gentar diutarakan.
    ‘Bagaimana cuacamu ?’
    ‘Aku biru.’
    ‘Aku kelabu.’
    Keangkuhan memecah jalan kami, kendati cuaca menalikannya. Kebisuan menjebak kami dalam permainan dugaan, lingkaran tebak-menebak, agar yang tersirat tetap tak tersurat.
    ‘Bagaimana cuacamu ?’
    ‘Aku cerah, sama sekali tidak berawan. Kamu ?’
    ‘Bersih dan [...]

  • Diam [2000]

    Malam memuram. Diammu menginfeksi udara dan membuat dunia sungkan bersuara. Dunia 4 x 6 meter tempat kita duduk berdua.
    Lenganmu kautarik menjauh untuk merengkuh dirimu sendiri. Tidak apa-apa. Aku mengerti. Duka membuatmu demam, dibuka kedinginan tapi dibungkus dua pasang lengan bikin kamu keringatan. Bukan berarti saya tidak butuh kamu, dulu sekali kamu memperingatkan.
    Aku mengerti. Kesedihan selalu [...]

  • Kuda Liar [1998]

    Tanyakanlah arti kebebasan pada kawanan kuda liar.
    Otot mereka kokoh akibat kecintaan mereka pada berlari, bukan karena mengantar seseorang ke sana ke mari. Kandang mereka adalah alam, bukan papan yang dipasangkan. Di punggungnya terdapat cinta, bukan pelana yang disandangkan dengan paksa.
    Hidup mereka indah dalam keinginan bebas. Hari ini ke padang, esok lusa ke gunung, tak ada [...]

  • Jembatan Zaman [1998]

    Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya.
    Pohon besar tumbuh mendekati langit dan menjauhi tanah. Ia merasa telah melihat segala dari ketinggiannya. Namun masih ingatkah ia dengan sepetak tanah mungil waktu masih kerdil dulu ? Masih pahamkah ia akan semesta kecil ketika semut serdadu bagaikan kereta raksaksa dan setetes embun bagai bola kaca dari surga, tatkala [...]

 
Page 1 of 212»