Archive for the ‘Burung Berkicau’ Category

  • 10. Kerohanian Sejati

    Sang Guru ditanya: ‘Apakah kerohanian itu?’
    Jawabnya: ‘Kerohanian yang sejati adalah kerohanian yang berhasil membuat orang melakukan perubahan hati.’
    ‘Tetapi kalau saya memakai cara lama yang diwariskan para Guru terdahulu, bukanlah itu kerohanian juga?’
    ‘Bukan kerohanian kalau tidak berfungsi merubah dirimu. Selimut sudah bukan selimut lagi kalau tidak menghangatkan tubuhmu.’
    ‘Jadi kerohanian itu berubah?’
    ‘Manusia berubah, demikian pula kebutuhannya. Maka [...]

  • 9. Mencari Keledai

    Sekalian orang tercengang-cengang ketika melihat Mullah* Nasruddin menelusuri lorong-lorong seluruh kampung dengan keledainya.
    ‘Apakah yang kau cari, Mullah?’ tanya mereka.
    ‘Aku mencari keledaiku.’ jawabnya seraya cepat berlalu.

  • 8. Garam Dan Kapas Di Dalam Sungai

    Nasruddin memuati keledainya dengan dua karung garam untuk dibawa ke pasar. Garam itu larut ketika keledainya menyebrangi sungai. Sesampainya di tepi, binatang itu berlari-lari berputar dengan girang, karena bebannya menjadi ringan. Tetapi Nasruddin kesal hatinya.

  • 7. Seekor Kera Menyelamatkan Ikan

    ‘Apa yang kau lakukan?’ tanyaku kepada seekor kera, ketika aku melihatnya sedang mengangkat ikan dari air dan meletakkannya di atas sebatang pohon.
    ‘Kuselamatkan dia, agar jangan mati tenggelam,’ jawab kera.
    Yang bagi seseorang merupakan makanan, bagi yang lain menjadi racun.
    Matahari yang membuat burung garuda bisa melihat, membutakan mata burung hantu.

  • 6. Merpati Raja

    Nasruddin menjadi perdana menteri raja. Sekali peristiwa, ketika ia berkeliling istana, ia melihat, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seekor burung elang milik raja.
    Nasruddin belum pernah melihat burung merpati seperti ini. Maka ia pun mengambil gunting, lalu memotong kuku, sayap dan paruh burung elang itu.

  • 5. Gajah Dan Tikus

    Seekor Gajah berkubang dengan santainya di sebuah kolam di tengah hutan. Tiba-tiba seekor tikus mendekatinya. Ia menyuruh gajah itu supaya segera keluar dari kolam.
    ‘Tidak mau,’ kata gajah. ‘Aku sedang bersantai dan tidak mau diganggu!’
    ‘Detik ini juga engkau harus keluar!’ desak tikus.
    ‘Lho, mengapa?’ tanya gajah.
    ‘Alasannya hanya akan kukatakan bila engkau sudah keluar dari kolam,’ jawab tikus.

  • 4. Sengat

    Konon seorang suci pernah diberi karunia dapat berbicara dengan bahasa lebah. Ia pun mendekati seekor yang tampaknya paling pandai dan bertanya:
    ‘Seperti apakah Yang Mahakuasa itu? Apakah Ia mempunyai kesamaan dengan lebah?’
    Kata lebah yang pandai itu:
    ‘Yang Mahakuasa? Tentu saja tidak! Kami, para lebah ini, hanya mempunyai satu sengat saja, sedangkan Dia mempunyai dua.’

  • 3. Kicauan Burung

    Benak para murid dipenuhi macam-macam pertanyaan tentang Tuhan.
    Kata sang Guru :
    ‘Tuhan adalah Yang-Tak-dikenal, bahkan Yang-Tidak-dapat-dikenal. Setiap pernyataan tentang Dia, seperti pula setiap jawaban terhadap pertanyaanmu, hanyalah mengacaukan Kebenaran.’
    Para Murid bingung. ‘Lalu mengapa anda masih juga berbicara tentang Dia?’
    ‘Mengapa burung berkicau?’ tangkis sang Guru.

  • 2. Perbedaan Mutlak

    Uwais, seorang Sufi*, pernah ditanya: “Apakah makna rahmat bagi Anda?”
    Jawabnya: “Setiap kali bangun pagi, aku merasa cemas, apakah aku masih akan hidup petang nanti.”
    Kata si penanya: “Tetapi bukankah semua orang tahu akan hal itu?”
    Jawab Uwais: “Mereka memang tahu. Tetapi tidak semua merasakannya.”

  • 1. Kunyahkanlah Buahmu Sendiri

    Seorang murid mengeluh kepada Gurunya: “Bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami.”
    Jawab sang Guru: “Bagaimana pendapatmu, Nak, andaikata seseorang menawarkan buah kepadamu, namun mengunyahkannya dahulu bagimu?”

 
Page 4 of 5«12345»